You are currently browsing the daily archive for November 22nd, 2007.

Joke…..
Hmm kali ini penulis pengen narsis-narsisan ah….skali-skali ini hihihihi…apaan tuh….so lets cek itu now….

God saw you hungry….
So He created rice

God saw you thirsty….
So He created water

God saw you in the dark….
So He created the sun

He saw you need a cute friends
So He created me…wakakakaka narsis bgt y J

Humor….
Kali ini penulis ingin berbagi joke mengenai judul lagu dalam versi bahasa inggris yang diplesetkan kedalam bahasa jawa…so lets cek it now….

Goodbye (Air Supply):
Minggat

Grease (Bee Gees) :
Kinclong

In the morning (Bee Gees):
Isuk utuk-utuk

Stayin’ alive (Bee Gees) :
Ora iso mati

Mama (Genesis) :
Mamak’e

All night long (Lionel Richie) :
Lek-lek’an(ngebyar)

Truly (Lionel Richie) :
Tenan’e

Like a virgin (Madonna) :
Ketok’e perawan

Billy Jean (Michael Jackson) :
Tuku clono Levis

My way (Frank Sinatra) :
Sak-karepku

Believe (Cher) :
Percoyo

Don’t speak (No Doubt) :
Meneng’a wae

La copa de la via (Ricky Martin) :
Ayo bal-balan

Warrior (Pat Benatar) :
Sepatu basket

Black magic woman (Santana) :
Mak Lampir

So young (The Corrs) :
Bocah cilik

Forever young (Alphaville) :
Awet enom

Zombie (Cranberries) :
Gendruwo

All I am (Heatwave) :
Maruk tenan

Beautiful girl (Jose Mari Chan) :
Cah ayu

Pretty boy (M2M) :
Lanang Banci

Smile again (Manhatan Transfer) :
Ayo ngguyu (Waljinah)

Anjungan SUMATRA UTARA
Berbagi informasi sekilah mengenai anjungan Sumatra utara dimana kali ini membahas mengenai rumah adapt suku batak…so lets cek it now….
Perbedaan rumah adat Batak Toba, Karo, Simalungun dan Nias yang terdapat di Anjungan Sumatra Utara terletak pada bentuk arsitektur dan ragam hiasnya. Sepasang Gajah Dompak yang terletak di depan rumah Bolon Batak Toba berfungsi sebagai penolak bala. Adapun setumpuk batu setinggi pagar di depan rumah adat Nias sesekali digunakans ebagai sarana olahraga tradisional “Lombat Batu

anjungansumut.jpg

Anjungan Sumatera Utara berada di sebelah Utara arsipel Indonesia dengan batas sebelah Barat anjungan propinsi Sumatera Barat, sebelah Timur propinsi Daerah Istimewa Aceh dan sebelah Utara jalan raya. Anjungan Sumatera Utara diresmikan pada tahun 1975, dengan arsitek bangunan dari Dinas Pekerjaan Umum Tingkat I Sumatera Utara.
Read the rest of this entry »

SEKILAS TENTANG PARTUTURAN (bagian 3)

C. Perkembangan Partuturan

Adapun yang menjadikan adanya “partuturan” itu sebenarya hanya dua dasar, yaitu: 1) Semarga, dan 2) Tidak semarga.

Yang pertama (semarga) menjadikan “pardongan sabutuhaon” (hal berteman semarga) dan yang kedua (tidak semarga) menjadikan “parhula ianakkonon” (hal ber “hulahula” dan ber “boru”). Diantara kedua golongan “partuturan” itu maka “pardongan sabutuhaon” lah yang tetap (abadi) dan tak dapat hapus atau hilang, sedang “parhula ianakkonon” dapat luntur dan pudar jika tidak diulang-ulang oleh generasi-generasi yang berikut dan dapat lenyap kalau terjadi perceraian antara suami istri. Namun “parhula ianakkonon” itu sama saja kedudukannya dalam DNT dengan “pardongan sabutuhaon”.

Perbedaan yang unik antara kedua macam hubungan kekeluargaan itu ialah: “pardongan sabutuhaon” boleh dikatakan statis (tak berubah) yaitu kalau saya bermarga Nababan maka hanya orang-orang yang bermarga Nababanlah “dongan sabutuha” saya. Lain halnya dengan “hulahula” dan “boru” yang keduanya berkembang-dengan cepat dan pesat. Ingatlah, bahwa tiap kali ada pesta perkawinan dalam lingkungan keluarga kita berarti perluasan kekeluargaan kita, yaitu bertambahnya “hulahula” dan “boru”.
Read the rest of this entry »

SEKILAS TENTANG PARTUTURAN (bagian 2)

B. Pengertian Parsubangon

Adapun yang dimaksud dengan peraturan “parsubangon” ialah peraturan-peraturan pantangan (parsubangon = yang dipantangkan). Tujuannya ialah menertibkan anggota-anggota keluarga terlebih-lebih yang berlainan jenis kelamin dalam pergaulan sehari-hari agar pergaulan itu tetap berjalan di atas rel yang telah ditetapkan oleh peraturan-peraturan DNT dan terutama mengenai penghormatan terhadap’ “hulahula” dan terhadap orang tua. Misalnya, kita dengan istri saudara lelaki istri kita (bahasa Bataknya “bao” tidak boleh berbicara secara. bebas, apa lagi bersenda guraur. Apa sebab? Saudara istri kita itu adalah “hulahula” yang paling dekat kepada kita. Maka istrinya pun harus menerima penghormatan sebagai “hulahula”, malahan harus lebih daripada yang biasa karena dia itu adalah seorang wanita dah tentang “Ina” (ibu) filsafat Batak berbunyi :

a. “Sada sangap tu ama, dua sangap tu ina.”
Artinya : Satu penghormatan terhadap bapak, tetapi dua terhadap ibu.

Maksudnya : Di samping menerima penghormatan biasa yang diterima oleh kaum bapak, maka ibu harus lagi menerima penghormatan istimewa, karena ibu itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk melahirkan anak-anak yang membawa kebahagiaan tertinggi dalam rumah tangga orang Batak.

Terhadap istri adik laki-laki kita pun kita harus berlaku sama seperti terhadap “bao” tersebut, sesuai dengan filsafat Batak:

b. “Marboras ia singkoru, marmutik ia timbaho,
Dos do na maranggi boru dohot halak na -marbao.”
Artinya : Penghormatan terhadap istri adik kita sama dengan penghormatan terhadap istri saudara lelaki istri kita.
Read the rest of this entry »

SEKILAS TENTANG PARTUTURAN (bagian 1)

A. Pengertian Partuturan
Adapun yang dinamai “partuturan” ialah hubungan kekeluargaan di antara ketiga unsur DNT (Dalihan Na Tolu). Sesuai dengan adanya 3 unsur itu maka macam hubungan kekeluargaan pun ada tiga, yaitu:
1. Hubungan kita dengan “dongan sabutuha”.
2. Hubungan kita dengan “hulahula”.
3. Hubungan kita dengan “boru”.

Sudah barang tentu kita harus menjaga dan memelihara agar ketiga macam hubungan itu selalu berjalan dengan baik dan sempurna.

Ada 2 buah filsafat Batak tentang itu:
1) “Habang binsusur martolutolu,
Malo martutur padenggan ngolu.”
Artinya: Kebijaksanaan menghadapi ketiga unsur DNT akan memperbaiki penghidupan.

2)”Habang sihurhur songgop tu bosar,
Na so malo martutur ingkon maos hona osar.
Artinya: Kebodohan, kelalaian dan keserakahan dalam menghadapi ketiga unsur DNT akan membuat orang tergeser-geser. Maksud “tergeser-geser” (bahasa Batak “hona osar’) ialah terpaksa berpindah-pindah tempat, karena tak disukai orang, akibatnya melarat.

Berhubung dengan kedua filsafat itu, maka nenek moyang orang Batak meninggalkan 3 buah petuah atau pesan untuk keturunannya, sebagai berikut:

1) “Manat mardongan tubu.”
Pada waktu ini acap kali diperlengkapi dan berbunyi: “Molo naeng ho sanggap, manat ma ho mardongan tubu.” Artinya : Jika kamu ingin menjadi orang terhormat, hati-hatilah dan cermat dalam bergaul dengan “dongan sabutuha” (teman semarga).
Keterangan tentang pesan pertama ini sebagai berikut.
Adapun “dongan sabutuha” itu dipandang oleh orang Batak sebagai dirinya sendiri dan dalam pergaulan antar mereka sehari hari tidak dihiraukan segi basa basi, sehingga adik acap kali tidak hormat terhadap abangnya dan demikian juga anak terhadap paktua dan pakciknya, hal mana acap kali menimbulkan perasaan kurang senang di pihak yang merasa dirugikan. Maka untuk menghindarkan itu diberilah oleh leluhur kita pesan yang tersebut di atas, agar kita hati-hati menghadapi “dongan sabutuha” kita. Untuk itu harus kita periksa dahulu kedudukan “dongan sabutuha” itu dalam “tarombo” (tambo, silsilah keturunan terhadap kita). Pada waktu ini tidak sulit lagi memeriksa hal itu. Tiap orang Batak yang tahu “tarombo”nya mengetahui tingkat generasinya pada “tarombo”-nya itu. Misalnya “dongan sabutuha” kita itu bertingkat generasi 16 dan kita sendiri tingkat 17, maka ia masuk golongan ayah kita. sehingga ia harus kita hormati sebagai ayah kita sendiri. Kalau ada jamuan makan janganlah kita mempertahankan tempat duduk kita di “juluan” (tempat terhormat) kalau nampak seorang “dongan sabutuha” dari golongan lebih tinggi (abang, ayah atau nenek) belum mendapat tempat yang layak, tetapi kita harus mempersilakan dia. duduk di tempat duduk kita sendiri, sekalipun menurut umur, kita lebih tua dari dia.
Dalam hal kita lebih tua dari dia, maka “dongan sabutuha” itu yang tentu juga mengetahui pesan leluhur kita itu, tidaklah akan gegabah terus menerima ajakan kita itu, tetapi dengan spontan ia akan menolak serta berkata, “Ah, tidak, yang tua-tua harus di hormati, tinggallah di situ, terimakasih.” Dalam pada itu ia sudah senang dan puas karena penghormatan kita itu. Dalam hal musyawarah pun atau pada rapat menyelesaikan perselisihan hendaklah kita selalu mengindahkan betul-betul basa-basi terhadap “dongan sabutuha”. Dengan jalan demikian maka semua “dongan sabutuha” akan selalu solider atas tindakan tindakan kita dan akan menghormati dan menghargai kita dengan sewajarnya; hal ini berpengaruh juga kepada orang disekeliling kita.
Read the rest of this entry »

Yang Pada Ngelirik

  • 170,124 Pengunjung

 

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Test Ip Visitor

IP

Willmen46 Banner

http://willmen46.wordpress.com

Willmen46 PageRank

Top Rated